Sabtu, 21 Mei 2016

Asuhan Keperawatan Sirosis Hepatis

   Tidak ada komentar     
categories: 
DEFINISI

Sirosis hepatis adalah penyakit kronis pada hepar dengan inflamasi dan fibrosis hepar yang mengakibatkan distorsi struktur hepar dan hilangnya sebagian besar fungsi hepar.
Ada tiga tipe sirosis hepatis :
1. Sirosis Portal Laennac
- Disebabkan oleh alkoholisme dan malnutrisi
- Pada tahap awal sirosis ini hepar membesar dan mengeras.  Namun pada tahap akhir hepar mengecil dan nodular.
2. Sirosis Pascanekrotik
- Terjadi nekrosis yang berat karena hepatotoksin biasanya berasal dari hepatitis virus.
- Hepar mengecil dengan banyak nodul dan jaringan fibrosa
3. Sirosis Bilier
- Dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati disekitar saluran empedu.
- Tipe ini biasanya terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan infeksi.

PATOFISIOLOGI

              -    Sirosis adalah tahap akhir pada beberapa tipe gangguan hepar
- Hepar sirosis biasanya mempunyai konsistensi nodular, dengan pita-pita fibrosis (jaringan parut) dan area kecil jaringan regenerasi.  Disini terjadi kerusakan luas hepatosit.
- Perubahan pada arsitektur hepar ini mengubah aliran pada sistem vaskuler dan limfatik serta saluran duktus empedu.
- Eksaserbasi periodik ditandai dengan stasis empedu, mencetuskan ikterik.
- Hipertensi portal terjadi pada sirosis hepar karena vena portal menerima darah dari usus dan limfa menyebabkan :
Peningkatan retrograd pada tahanan tekanan dan pembesaran oesofagus, umbilikus dan vena rektus superior yang dapat menyebabkan perdarahan varises.
Asites, akibat perpindahan osmotik atau hidrostatik yang menimbulkan akumulasi cairan pada peritoneum.
Pembersihan tidak lengkap sisa-sisa metabolik protein menimbulkan peningkatan kadar amonia dalam darah, sehingga menimbulkan ensefalopati hepatik. ( Pada keadaan normal, amonia terbentuk dalam usus dari pemecahan protein oleh bakteri yang terdapat dalam usus.  Amonia ini dibawa ke hepar melalui sirkulasi portal.  Oleh hepar, amonia diubah menjadi urea.  Pada kegagalan hepar, amonia meningkat dalam darah.
- Berlanjutnya proses karena ketidaktahuan penyebab atau penyalahgunaan alkohol biasanya mengakibatkan kematian karena ensefalopati hepatik, infeksi bakteri, peritonitis,hepatoma.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Bilirubin terkonjugasi dan tak terkonjugasi meningkat
2. Urobilinogen urine meningkat
3. Masa protrombin memanjang
4. Trombosit, eritrosit, leukosit menurun
5. Hipokalemia
6. Hiponatremia
7. Enzim-enzim ALT (SGPT), AST (SGOT), alkalin fosfatase meningkat
8. CT Scan : informasi tentang besar hati dan aliran darah hepatik serta obstruksi aliran tersebut.

TINDAKAN MEDIS

- Tidak ada terapi spesifik untuk sirosis.  Tindakan medis diarahkan pada faktor-faktor penyebab, seperti menangani alkoholisme, malnutrisi, obstruksi bilier, toksin, masalah jantung dan sebagainya.
- Tindakan medis yang lain disesuaikan pada tanda-tanda yang timbul misalnya :
1. Antihistamin untuk pruritus
2. Kalium untuk hipokalemia
3. Diuretik untuk edema
4. Vitamin seperti asam folat, thiamin, vitamin K dan sebagainya.
5. Tindakan menghentikan perdarahan : lavase lambung, terapi farmakologis : vasopresin +dektrose 120-200 m/iv; injeksi skleroterapi (sodium morrhuate 5 ml) dengan menggunakan endoskopik serat optik dimasukkan ke dalam oesofagus, setelah ditemukan lokasi perdarahan disuntikkan pada varises (sebelumnya diberi sedatif ringan/anestesi lokal); Tamponade balon (sengstakenblakemore) dengan 3 lumen dan 2 balon dimana satu lumen untuk mengosongkan lambung, lumen ke 2 untuk mengembungkan balon di oesofagus, lumen ke 3 untuk menggembungkan balon ditempat pertemuan kardiaoesofagus; pembedahan (ligasi dan pirau)

PENGKAJIAN

Data Subjektif :
Keluhan : anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen.
Kulit, selaput lendir, sklera : kekuning-kuningan, gatal, urine berwarna kuning tua dan berbuih.
Kebiasaan : merokok, minum alkohol, obat-obat terlarang, dan sebagainya
Seksualitas : impoten, libido menurun, menstruasi menghilang.
Data Objektif :
Tanda vital tekanan darah menunjukkan tekanan darah ortostatik.
Kulit dan sklera : ikterik, petekie, hematoma, luka bekas garukan, spider angioma, eritema palmar, dilatasi pembuluh darah bagian atas dan bawah tubuh, edema, ginekomastia.
Abdomen : gerakan peristaltik (auskultasi), distensi abdomen, nyeri tekan, pembesaran hepar dan limpa, asites, dilatasi vena pada abdomen (kaput medusae)
Neuromuskular : pengecilan otot-otot, koordinasi berkurang, tremor, perubahan orientasi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan keterbatasan ekspansi
dada  karena hidrotoraks dan asites.
2. Keletihan yang berhubungan dengan metabolisme tubuh meningkat, sehingga
    produk energi kurang, anemia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
3. Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan retensi cairan karena aldosteron meningkat,dan tekanan osmotik koloid menurun.
4. Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan fisiologis, seperti ikterik, asites, edema,ginekomastia, dan sebagainya.
5. Gangguan rasa nyaman yang berhubungan dengan pruritus, nyeri dan kelelahan.
6. Potensial trauma yang berhubungan dengan perubahan orientasi (pasien dapat jatuh dari tempat tidur).
7. Potensial infeksi yang berhubungan dengan perubahan metabolisme protein, fungsi fagosit hepar lumpuh, kurangnya leukosit (akibat splenomegali).
8. Potensial gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan pruritus.

INTERVENSI KEPERAWATAN

Bantuan Pernapasan
- Posisi fowler dapat membantu ekspansi dada.
- Pasien diberanikan bernafas dalam-dalam untuk mencegah stasis sekresi pada saluran pernapasan.
- Kadang-kadang dokter melakukan torakosentesis untuk mengurangi hidrotoraks.
Pengendalian kelelahan
- Ambulasi diperbolehkan pada batas kemampuan pasien.
- Ketika pasien merasa lelah, ia harus berbaring.
- Pasien yang mengalami hidrotoraks, asites, dan edema perlu dibantu untuk mobilisasi di tempat tidur. Pasien ini condong mengalami dekubitus sehingga memerlukan mobilisasi tiap 2-3 jam. Bagian-bagian tubuh yang rawan untuk dekubitus perlu diolesi losion kulit.
Pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit
- Untuk menangani hipokalemia, dokter dapat memberi obat kalium per oral. Kalium serum harus dipantau karena pasien dapat dengan cepat mengalami hiperkalemia.
- Asites dan edema diatasi dengan mengurangi asupan garam, perbanyak istirahat.  Jika tindakan ini tidak menolong, dokter dapat memberi obat diuretik.  Pemberian diuretik harus hati-hati karena pengeluaran cairan (urine) 500 ml lebih dari asupannya dapat mencetuskan oliguria dan uremia akibat pengurangan cairan secara mendadak.
- Jumlah cairan yang diperbolehkan harus dibagi untuk keperluan dalam 24 jam.  Berat badan pasien diukur tiap hari pada waktu dan dengan timbangan yang sama.  Bagi pasien yang tidak dapat berjalan atau berdiri, lingkaran abdomen dapat diukur.
Pencegahan infeksi
- Mencuci tangan dengan benar
- Mencegah kontak pasien dengan individu yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas.
- Perhatikan teknik asepsis ketika melaksanakan perasat invasif.
- Segera lapor ke dokter jika ada peningkatan temperatur.
Pencegahan trauma dan perdarahan.
- Pantau urine dan feses
- Ketika memandikan pasien atau menggantikan pakaiannya, periksa kulit untuk adanya petekie dan hematoma.
- Periksa mulut dan gusi
- Tanda vital tiap 4 jam.
- Pantau masa protrombin dan trombosit.
- Hindari pemberian obat-obatan intramuskular atau subkutan.
- Gunakan jarum yang paling halus jika harus memberi injeksi.
- Beri tekanan pada bekas suntikan intramuskuler atau intravena selama 5 menit dan 10 menit untuk fungsi arterial.
- Beri vitamin K yang dipesan dokter.
- Untuk hiegene oral, gunakan sikat gigi yang lembut atau kassa.
- Jelaskan pada pasien untuk tidak mengejan keras ketika defekasi, batuk atau bersin terlalu keras.
- Hindari makanan yang dapat merangsang mukosa.
- Bantu pasien agar dia tidak jatuh.
- Perhatikan lantai basah, licin atau barang-barang yang dapat menyebabkan pasien jatuh.
Pemeliharaan keseimbangan nutrisi
- Jelaskan pembatasan diet; ingat bahwa natrium dan cairan dibatasi.Beritahu pasien makanan yang diizinkan.  Bila kadar amonia pasien meningkat (normal : darah lengkap :70-200 µg/dl; plasma 56-150 µg/dl, protein/makanan tinggi amonia juga akan dibatasi.
- Pantau masukan dan haluaran; timbang berat badan setiap hari
- Anjurkan makan sedikit dan sering untuk menjamin nutrisi adekuat
- Anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang diinginkan sesuai izin.
- Hiegene oral dan ventilasi kamar yang baik dapat membuat pasien merasa segar dan mau makan.
Perawatan Kulit
- Pasien yang sangat lemah untuk mengubah posisi di tempat tidur perlu dibantu mengubah posisinya tiap2-3 jam.
- Bagian tubuh yang rawan mengalami dekubitus perlu dioles dengan losion kulit setiap mengubah posisi pasien.
Penyuluhan Pasien
- Pencegahan kerusakan lebih lanjut pada hepar dengan menghindari minuman keras seperti alkohol serta obat-obat yang tidak diresepkan dokter.
- Pembatasan diet
- Cara membagi cairan yang diperbolehkan untuk kebutuhan selama 24 jam
- Tindakan pencegahan terhadap adanya kemungkinan trauma dan perdarahan
- Kegiatan sehari-hari dan istirahat
- Tanda yang harus diwaspadai dan segera dilaporkan ke dokter :
a. Perdarahan gusi, kulit, urine dan kotoran
b. Ukuran lingkaran abdomen bertambah
c. Berat badan bertambah
d. Edema kedua tungkai bertambah


DAFTAR PUSTAKA

Baradewo dkk.2008.Seri Asuhan Keperawatan. Klien Gangguan Hati.EGC. Jakarta
Ester M.2002. Keperawatan Medikal Bedah. Pendekatan Gastrointestinal. EG. Jakarta
Price dan Wilson.Patofisiologi.EGC.Jakarta
Smeltzer dan Bare.2002. Keperawatan Medikal Bedah.Terjemahan. EGC. Jakarta

Asuhan Keperawatan Bronkhitis kronik

   Tidak ada komentar     
categories: 
DEFINISI

Bronkhitis dikarakteristikkan oleh inflamasi lapisan mukosa jalan nafas trakeo bronkial dan produksi mukus yang berlebihan.  Hal ini dapat akut atau kronis. (Barbara Engram,1999)
Bronkhitis akut adalah peradangan bronki dan kadang-kadang mengenai trakea yang timbul secara mendadak.(Santa Manurung dkk, 2009)
Bronkhitis kronis didefinisikan sebagai hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis atau berulang minimal selama 3 bulan per tahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut  pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain. (Long, 1996)

ETIOLOGI

1. Penghirupan zat iritan fisik  (debu, asap) atau kimia (N20, CO)
2. Infeksi virus atau bakteri (streptokokus pneumoniae, haemophilus influenza)
3. Merokok

PATOFISIOLOGI

- Hipertropi kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan jumlah sel goblet disertai infiltrasi sel radang dan udema mukosa bronkus.
- Akibatnya, pembentukan mukus akan meningkat dan mengakibatkan batuk produktif.
- Batuk kronik disertai peningkatan sekresi bronkus mempengaruhi bronkiolus yang kecil-kecil sedemikian rupa sampai bronkiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar.

TANDA DAN GEJALA

- Gejala awal : batuk produktif
- Auskultasi : ronkhi bronkovesikuler, rales
- Gejala berikutnya : kelemahan fisik, sesak saat berjalan ditempat datar, penggunaan otot-toto aksesorius pernapasan, sering sianosis, edema kaki, pelebaran vena leher.

Test Diagnostik :
- RO thorak
- Analisa sputum
- Tes Fungsi paru
- Pemeriksaan gas darah arteri : (PaO2 rendah, PaCO2 meingkat)

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kerusakan pertukaran gas
2. Intoleransi aktifitas
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4. Resiko tinggi infeksi
5. Ansietas
6. Gangguan konsep diri
7. Resiko tinggi ketidakpatuhan

PERENCANAAN

1. Pernapasan bibir/pernapasan abdomen
2. Fisioterapi paru
3. Terapi oksigen
4. Pengobatan : bronkodilator, antibiotika
5. Tempatkan posisi fowler atau fowler yang tinggi
6. Bantu pengendalian lingkungan
7. Hindari penghirupan iritan
8. Perbaiki toleransi aktifitas : sediakan cukup waktu untuk beraktifitas, sediakan O2, tingkatkan aktiftas secara bertahap
9. Bantu perbaiki pola tidur : latihan relaksasi, masase, musik, posisi, dll
10. Bantu mengurangi ansietas : bantu pasien menceritakan kecemasannya, jangan tinggalkan pasien sendirian selama sesak
11. Konseling dan pendidikan : kurangi merokok, dorong orang lain untuk tidak merokok, hindari penderita infeksi pernapasan, kurangi kontak dengan anak-anak


DAFTAR PUSTAKA

Engram, 1999. Rencana Asuhan Keperawaatn Medikal Bedah. EGC. Jakarta
Manurung S. 2009. Seri Asuhan Keperawatan.Gangguan Sistem Pernapasan Akibat Infeksi. TIM.Jakarta
Long B.C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Yayasan IAPK. Padjajaran. Bandung
Price dan Wilson.2006. Patofisiologi. EGC.Jakarta

Asuhan Keperawatan Apendisitis

   Tidak ada komentar     
categories: 
Definisi

Apendisitis merupakan inflamasi appendiks, suatu bagian seperti kantung yang non fungsional dan terletak dibagian inferior sekum. ( Monica Ester, 2002:63)
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan.  Tetapi lebih sering menyerang laki-laki usia 10 – 30 tahun. (Arif Mansjoer,2000 : 307).  Apendictomy adalah operasi pengangkatan apendik vermiformis.(Kamus saku keperawatan, edisi 31).

Etiologi

Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh :
Hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktura karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya.(Arif Mansjoer,2005:307)

Anatomi Fisiologi

Appendiks merupakan tabung panjang dan sempit (sekitar 6-9 cm). Pada appendiks ini terdapat arteri appendikularis yang merupakan end-arteri.  Pada posisi yang normal appendiks terletak pada dinding abdomen dibawah titik Mc Burney.  

Patofisiologis

Obstruksi/penyumbatan lumen apendiks menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan.  Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen.  Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa.  
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.  Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema berteambah, dan bakteri akan menembus dinding.  Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah.  Keadaan ini disebut dengan Apendisitis Supuratif Akut.  
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan Apendisitis Gangrenosa.  Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi Apendisitis Perforasi.
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis.  Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.  Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi.  Sedangkan pada orangtua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.(Arif Mansjoer,2005:307)

Manifestasi klinis

  • Nyeri kuadran bawah biasanya disertai dengan demam derajat rendah, mual dan seringkali muntah
  • Pada titik MC Burney (terletak dipertengahan antara umbilikus dan spina anterior dari ilium) terdapat nyeri tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rektus kanan.
  • Dapat terjadi nyeri alih
  • Tanda Rovsing dengan mempalpasi kuadran kanan bawah, yang menyebabkan nyeri pada kuadran kiri bawah
  • Jika terjadi ruptur apendiks, maka nyeri akan menjadi lebih menyebar, terjadi distensi abdomen.
Evaluasi Diagnostik

  1. Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan fisik lengkap dan pemeriksaan laboratorium serta radiologi
  2. Jumlah leukosit lebih tinggi dari 10.000/mm3; jumlah neutrofil lebih tinggi dari 75%; pemeriksaan sinar X menunjukkan densitas pada kuadran kanan bawah atau tingkat aliran udara setempat
Komplikasi

  1. Perforasi
  2. Peritonitis
  3. Abses Apendiks
  4. Tromboplebitis Supuratif (Jarang)

Penatalaksanaan

1. Sebelum Operasi

a. Observasi

Dalam 8 -12 jam sebelum timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendisitis seringkali masih belum jelas.  Dalam keadaan ini observasi ketat perlu dilakukan.  Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan.  Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis ataupun bentuk peritonitis lainnya.  Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodik.  Foto abdomen dan toraks tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain.  Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri didaerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.

b. Intubasi bila perlu

c. Antibiotik

2. Pasca Operasi

Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan didalam, syok, hipertermia, atau gangguan pernapasan.  Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.  Baringkan pasien dalam posisi fowler.  Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan.  Selama itu pasien dipuasakan.  Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, diteruskan sampai fungsi usus kembali normal.  Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam.  Keesokkan harinya diberikan makanan saring, dan hari berikutnya diberikan makanan lunak.  Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit.  Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar.  Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.
(Arif Masjoer,2005:308-3009)

Diagnosa Keperawatan 

  1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama perforasi/ruptur pada apendiks/peritonitis, pembentukan abses, prosedur invasif, insisi bedah.
  2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah pra operasi, pembatasan pasca operasi (contoh puasa), status hipermetabolik (demam, proses penyembuhan), inflamasi peritoneum dengan cairan asing.
  3. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi, adanya insisi bedah ditandai dengan laporan nyeri, wajah mengkerut, otot tegang, perilaku distraksi respon otomatis.
  4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang mengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi ditandai dengan pertanyaan, meminta informasi, menyatakan masalah/perhatian, menyatakan salah konsepsi, tidak tepat mengikuti instruksi, terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.

Intervensi Keperawatan

1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan utama perforasi/ruptur pada apendiks/peritonitis, pembentukan abses, prosedur invasif, insisi bedah.
Tujuan :  Infeksi tidak terjadi
Kriteria Hasil : - luka sembuh
     - tanda-tanda infeksi tidak ada


Rencana Tindakan :
- Pantau tanda, gejala infeksi
- Kaji tanda-tanda vital, perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan mental, meningkatnya nyeri abdomen
- Lihat insisi balutan, catat karakteristik drainase luka 
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotika sesuai indikasi

2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah pra operasi, pembatasan pasca operasi (contoh puasa), status hipermetabolik (demam, proses penyembuhan), inflamasi peritoneum dengan cairan asing.
Tujuan : Keseimbangan cairan normal
Kriteria Hasil : - kelembaban membran mukosa normal
                     - turgor kulit baik
                     - tanda-tanda vital stabil
                     - keluaran cairan urine adekuat

Rencana Tindakan :
- Kaji tekanan darh dan nadi
- Lihat membran mukosa, kaji turgor kulit dan kapiler pasien
- Anjurkan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus pada perlindungan bibir
- Beri sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan peroral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan vena dan elektrolit.

3. Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi, adanya insisi bedah ditandai dengan laporan nyeri, wajah mengkerut, otot tegang, perilaku distraksi respon otomatis.
Tujuan : Nyeri hilang
Kriteria Hasil : - klien tampak rileks
                     - klien dapat beristirahat dengan tepat

Rencana Tindakan :
- Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, durasi dan selidiki serta laporkan   
  Perubahan nyeri dengan tepat.
- Jelaskan pada klien tentang tindakan nyeri supaya nyeri bisa diatasi
- Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler
- Kolaborasi dengan dokter analgesik sesuai indikasi

4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang mengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi ditandai dengan pertanyaan, meminta informasi, menyatakan masalah/perhatian, menyatakan salah konsepsi, tidak tepat mengikuti instruksi, terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
Tujuan : Pengetahuan bertambah
Kriteria Hasil : Klien menyatakan pemahaman tentang proses penyakit
   Rencana Tindakan :
             - Kaji ulang pembatasan aktivitas pasca operasi,contoh : mengangkat benda berat, olahraga, seks, latihan, menyetir
 - Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh : peningkatan nyeri, edema, eritema, adanya drainase, demam
- Diskusikan perawatan insisi termasuk mengganti balutan, pembatasan mandi dan kembali ke dokter untuk mengangkat jahitan/pengikat.



DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth.1995. Keperawatan Medikal Bedah, EGC. Jakarta

Doengoes dkk.2000. Rencana Asuhan Keperawatan,terjemahan. EGC, Jakarta

Ester M, 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Pendekatan Sistem Gastro Instestinal,EGC. Jakarta.

Long.B.C.1996.Perawatan Medikal Bedah. Terjemahan. Volume 2. Yayasan IAPK. Bandung

Mansjoer Dkk,2000.  Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius. Jakarta

Price S.A, Patofisiologi, EGC.Jakarta

Sabiston.1995. Buku Ajar  Bedah. Bagian 1. Buku Kedokteran.EGC.Jakarta

Jumat, 20 Mei 2016

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Anemia

   Tidak ada komentar     
categories: 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi). Masalahnya dapat berakibat sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor di luar sel darah merah. Sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi seperti yang terjadi pada kelainan-kelainan yang ada pada anemia maka hemoglobin akan muncul dalam plasma.

1.2. Definisi Anemia

Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh.
Secara fisiologis, anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah Hb untuk mengangkut O2 ke jaringan terdapat berbagai macam anemia. Sebagian akibat produksi sel darah merah tidak mencukupi, dan sebagian lagi akibat sel darah merah tidak mencukupi, dan sebagian lagi akibat sel darah merah prematur atu penghancuran sel darah merah yang berlebihan. Faktor penyebab lainnya meliputi kehilangan darah, kekurangan nutrisi, faktor keturunan dan penyakit keturunan dan penyakit kronis. Anemia kekurangan besi adalah anemia yang terbanyak di seluruh dunia.

Anemia terdiri dari:

1. Anemia hemolitik
2. Anemia aplastik
3. Anemia defisiensi besi
4. Anemia pernisiosa

1.3. Etiologi

Kegagalan sumsum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan, dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi. Anemia secara umum dianggap sebagai bagian proses patologis yang menyebabkan kehilangan darah. Anemia mempunyai faktor penyebab yaitu penyebab itu meliputi kehilangan darah, faktor keturunan dan penyakit kronis dan kekurangan hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan. Berkurangnya penyerapan zat besi atau meningkatkan kebutuhan akan zat besi. Berkurangnya produksi asam hidroksida.

1.4. Patofisiologi

Sel darah merah terjadi terutama dalam sel fagositi atau dalam sistem retikuloendotelial terutama dalam hati dan limfa sebagai hasil samping yang terbentuk dalam fagosit akan memasuki aliran darah. Apabila konsentrasi plasmanya melebihi dari kapasitas haptoglobin plasma atau protein pengikat untuk Hb bebas. Pada pasien tertentu disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi, biasanya dapat diperoleh dengan dasar siekulasi darah. Produksi sel darah merah dapat ditentukan dengan mengukur kecepatan dimana injeksi besi radioaktif dimasukkan ke sirkulasi eritrosit. Sel darah merah pasien dapat diukur dengan menandai sebagian diantaranya dengan injeksi dan mengikuti sampai bahan tersebut menghilang dari sirkulasi darah selama beberapa hari sampai beberapa minggu.
Metode tentang bagaimana membedakan kegagalan sumsum tulang t3.


1.5. Manifestasi Klinis

Berbagai faktor mempengaruhi berat dan adanya gejala anemia:
1. Kecepatan kejadian anemia
2. Durasinya (mis: kronisitas)
3. Kebutuhan metabolisme pasien bersangkutan
4. Adanya kelainan lain atau kecacatan
5. Komplikasi t3 atau keadaan penyerta kondisi yang menyebabkan anemia

1.6. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang. Anemia mempunyai beberapa metode dalam penanganan yang sering dilakukan:
1. Transplantasi sumsum tulang
2. Pemberian terapi imuno subpresif dengan globulin anti timosit (ATG)
3. Pemberian terapi asam folat diberikan setiap hari, karena kebutuhan sumsum tulang yang sangat tinggi.
Anemia bisa merupakan tanda adanya keganasan gastrointestinal yang dapat disembuhkan pada anemia. Pemberian obat dengan dosis tinggi harus segera dihentikan karena ketika hemoglobin kembali ke angka normal biasanya setelah beberapa minggu, diturunkan bertahap dan dihentikan.
Anemia yang berkasus berat diperlukan untuk transpusi darah, karena transpusi darah sangat diperlukan untuk penyembuhan yang bertahap.




BAB II
PENGKAJIAN UMUM

Aktivitas / istirahat

Gejala:
Keletihan, kelemahan, malaise umum
Kehilangan produktivitas: penurunan semangat untuk bekerja
Toleransi terhadap latihan rendah
Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak

Tanda:
Takikardia / takipnea, dispnea pada saat bekerja atau istirahat
Letargi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya
Kelemahan otot dan penurunan kekuatan
Ataksia, tubuh tidak tegak
Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat

Sirkulasi

Gejala:
Riwayat kehilangan darah kronis mis: perdarahan kronis, menstruasi berat (DB), angina, CHF (akibat kerja yang berlebihan)
Riwayat endokarditis infektif kronis
Palpitasi (takikardia kompensasi)

Tanda:
TD: peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar, hipotensi postural
Disritmia: abnormalitas EKG mis: depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T. takikardia
Bunyi jantung: mur-mur sistolik (DB)
Ekstremitas (warna): pucat pada kulit dan membran mukosa (conjungtiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku
Sklera: biru atau putih seperti mutiara
Kuku: mudah patah, berbentuk seperti sendok
Rambut: kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara prematur

Integritas ego

Gejala:
Keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, mis: penolakan, transfusi darah

Tanda:
Depresi

Eliminasi

Gejala:
Riwayat pielonefritis, gagal ginjal
Flatulen, sindrom malabsordsi
Hematemesis, feses dengan darah, segar, melena
Diare atau konstipasi
Penurunan haluaran urine

Tanda:
Distensi abdomen

Makanan / cairan

Gejala:
Penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah / masukan produk sereal tinggi
Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan
Mual / muntah, dispepsia, anoreksia
Adanya penurunan BB

Tanda:
Lidah tampak merah daging / halus
Membran mukosa kering, pucat
Turgor kulit buruk, kering, tampak kisut / hilang elastisitas
Stomatitis dan glositis
Bibir: selitis, mis: inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah

Higiene

Tanda:
Kurang bertenaga, penampilan tak rapih

Neurosensori

Gejala:
Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinitus, ketidakmampuan berkonsentrasi
Insomnia, penurunan penglihatan dan bayangan pada mata
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah
Sensasi menjadi dingin

Tanda:
Peka rangsang, gelisah, depresi, cenderung tidur, apatis
Mental: tak mampu berespon lambat dan dangkal
Oftalmik: hemoragis retina
Epitaksis: perdarahan dari lubang-lubang
Gangguan koordinasi, ataksia: penurunan rasa getar dan posisi, tanda Romberg (+), paralisis

Nyeri / kenyamanan

Gejala:
Nyeri abdomen samar, sakit kepala

Pernapasan

Gejala:
Rowayat TB, obses paru
Napas pendek pada istirahat dan aktivitas

Tanda:
Takipnea, ortopnea dan dispnea

Seksualitas

Gejala:
Perubahan aliran menstruasi, mis: menoragia atau amenore
Hilang libido
Impoten

Tanda:
Serviks dan dinding vagina pucat

Pemeriksaan diagnostik

Jumlah darah lengkap (JDL): Hb dan hematokrit menurun
Jumlah eritrosit: menurun
Jumlah retikulosit: bervariasi, mis: menurun, meningkat (respon sumsum tulang terhadap kehilangan darah / hemolisis)
Pewarnaan JDN: mendeteksi perubahan warna dan bentuk
Test kerapuhan eritrosit: menurun
Jumlah trombosit: menurun (aplastik): meningkat (DB) normal atau tinggi (hemolitik)
Bilirubin serum: meningkat
Besi serum: tak ada (DB), tinggi (hemolitik)
TIBC serum: meningkat
Feritin serum: menurun

2.1. Diagnosa Keperawatan

1. Toleransi aktivitas b/d kelelahan dan malaise umum
2. Kekurangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b/d kekurangan nutrisi esensial
3. Integritas kulit, kerusakan, risiko tinggi b/d gangguan mobilitas
4. Perfusi jaringan, perubahan b/d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrien ke sel
5. Konstipasi b/d penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan efek samping terapi

2.2. Intervensi / Implementasi

Promosi istirahat dan aktifitas.
Pasien didorong untuk menjaga kekuatan dan energi fisik dan emosional. Dianjurkan istirahat yang sering, dan dukungan keluarga, diperlukan untuk menjaga suasana istirahat.
Jadwal teratur untuk istirahat dan tidur wajib untuk mempertahankan kekuatan dan toleransi terhadap aktivitas, dianjurkan untuk tetap bergerak dan aktif sejauh yang dapat ditoleransi.
Menjaga nutrisi yang adekuat, kekurangan asupan nutrisi esensial seperti besi dan asam folat dapat mengakibatkan anemia tertentu.

Diberikan Vit C dan penambahan protein hewani
Transfusi darah
Tujuan utama meliputi toleransi terhadap aktivitas, pencapaian atau pemeliharaan nutrisi yang adekuat, dan tidak adanya komplikasi

2.3. Evaluasi

1. Mampu bertoleransi dengan aktivitas normal
a. Mengikuti rencana progresif istirahat, aktivitas dan latihan
b. Mengatur irama aktivitas sesuai tingkat energi
2. Mencapai / mempertahankan nutrisi yang adekuat
a. Makan makanan tinggi protein, kalori dan vitamin
b. Menghindari makanan yang menyebabkan iritasi lambung
c. Mengembangkan rencana makan yang memperbaiki nutrisi optimal